Reminder: # Mari kita jadikan usia kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 ini, momentum untuk membangun keluarga yang kokoh, yang bisa menjadi benteng dari pengaruh negatif zaman.#

Reminder: # Mari kita jadikan usia kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 ini, momentum untuk membangun keluarga yang kokoh, yang bisa menjadi benteng dari pengaruh negatif zaman.#

Medan, Ikhlashiyahnews (17/08/2025) - Tahun ini, Indonesia genap berusia 80 tahun sejak kemerdekaan 17 Agustus 1945. Usia yang tidak muda lagi, dan sudah seharusnya menjadi momen untuk merenung: apa yang sudah kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan ini?

Kemerdekaan bukan hadiah. Ia diraih dengan perjuangan para pahlawan yang mengorbankan nyawa, harta, dan tenaga. Mereka melawan penjajah dengan semangat dan keberanian luar biasa. Kita tinggal menikmati hasilnya. Tapi apakah cukup hanya dengan mengenang jasa mereka? Tentu tidak. Tugas kita adalah mengisi kemerdekaan dengan pembangunan, terutama membangun jiwa dan raga bangsa ini.

Tema HUT RI ke-80 tahun ini adalah: “Bersatu, Berdaulat. Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju.” Tema ini memberi pesan kuat bahwa kemajuan bangsa hanya bisa dicapai jika kita bersatu, saling peduli, dan membangun dari bawah, dari rumah dan keluarga sendiri.

Keluarga adalah tempat pertama membangun bangsa. Jika ingin Indonesia maju, maka kita harus mulai dari membangun keluarga yang harmonis, saling sayang, dan penuh nilai-nilai agama.

Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk bersyukur atas nikmat Allah. Dalam Al-Qur’an, Surah Ibrahim ayat 7, Allah menjanjikan akan menambah nikmat bagi orang-orang yang bersyukur. Salah satu nikmat besar yang wajib kita syukuri adalah nikmat kemerdekaan. Bersyukur bukan hanya dengan lisan, tapi juga dengan menjaga keluarga dari kerusakan, seperti yang disebutkan dalam QS. At-Tahrim ayat 6: “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Di zaman sekarang, tantangan makin besar. Gawai, internet, dan media sosial bisa jadi bermanfaat, tapi juga bisa menjerumuskan anak-anak kita kalau tidak digunakan dengan bijak. Banyak anak muda yang hanyut dalam dunia maya, lupa pada ibadah, akhlak, dan masa depan.

Karena itu, peran orang tua sangat penting. Jangan serahkan semuanya ke guru atau ustaz. Didik anak-anak kita dengan cinta, ajarkan akhlak mulia, tuntun mereka dalam beribadah, dan ajak mereka mengenal Islam sejak dini. Kita harus aktif membangun keluarga yang kokoh, yang bisa menjadi benteng dari pengaruh negatif zaman.

Para orang tua dan generasi muda, jangan menjauh dari ulama dan orang-orang saleh. Mereka adalah cahaya yang membimbing kita di tengah kegelapan zaman. Mendekat kepada mereka adalah cara terbaik untuk memperbaiki diri dan menenangkan hati.

Mari kita jadikan usia kemerdekaan ke-80 ini sebagai titik balik. Ayo mulai dari hal sederhana: memperbaiki diri, membina keluarga, dan aktif di lingkungan masyarakat. Jangan biarkan kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah dan air mata ini disia-siakan hanya karena kita lalai.

Kemerdekaan bukan hanya soal bebas dari penjajahan. Kemerdekaan sejati adalah ketika kita bisa hidup dengan iman, akhlak, dan kesejahteraan. Semoga kita semua bisa menjadi bagian dari generasi penerus yang mampu menjaga dan mengisi kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya.

Wallahul muwafiq ilaa aqwamith tharieq.